Meminta Maaf dan Memaafkan


Tujuh hari sudah idul fitri telah kita lewati, entah apa yang didapat oleh kita semasa rmadhan tahun ini, jawabannya ada pada diri masing-masing. pada hari nan fitri setelah shalat ied, pastilah tradisi kita akan saling bermaaf-maafan, namun entah karena jauh atau pun apa alasannya, fenomena meminta maaf dengan mengirimkan konten selamat idul fitri, baik itu melalui SMS, email, atau apapun menjadi jalan dan dilaksanakan oleh kita, terutama di Indonesia.

Sudah menjadi ajaran Islam untuk memanfaatkan moment Idul Fitri untuk saling memaafkan, menjalin silaturahmi, merapatkan kembali hubungan yang terenggangkan oleh masalah masalah kehidupan.
seiring dengan kemajuan teknologi, cara penyampaian permintaan maaf tersebut juga mengalami perubahan, entah hal ini dapat disebutkan sebagai sebuah kemajuan atau malah sebuah kemunduran.
SMS dari telepon selular merupakan salah satu media untuk penyampaian permintaan maaf ini, dimasa lalu, kartu lebaran juga merupakan sarana penyambung silaturahmi dimoment Idul fitri.

mari kita tanyakan pada diri kita masing-masing, apakah proses maaf memaafkan ini sudah terlaksana sebagaimana mestinya, atau hanya menjadi tradisi yang tidak bermakna dan berarti bagi kehidupan kita.
pada dasarnya manusia merupakan makluk yang egois, yang mau menang sendiri, dan merasa dirinya yang paling benar. jika rasa paling benar ini sejalan dengan pendapat individu-individu lain disekitarnya, tentu saja tidak akan terjadi friksi atau pertentangan, saling menyerang dan saling menyalahkan. tetapi dalam kenyataannya justru lebih sering terjadi pertentangan antar individu, yang menimbulkan konflik.
saling memaafkan adalah salah satu cara untuk menghilangkan konflik, tetapi karena konflik yang terjadi karena perbedaan pandangan dan pendapat, tentu saja saling memaafkan dapat diartikan menyamakan pandangan, tetapi tetap saja pendapat tersebut tidak dapat disatukan, karena masing-masing pihak merasa paling benar. meminjam konsep demokrasi, perbedaan pendapat tersebut diredakan dengan saling menghargai pendapat masing-masing, tanpa perlu menyamakan pendapat dan persepsi.
persoalannya adalah, apalah dengan saling menghargai pendapat masing-masing ini, merupakan jalan saling memaafkan, padahal kedua pendapat tersebut saling bertentangan ?
disalah satu khutbah yang pernah disampaikan dalam sebuah majelis, disampaikan bahwa ALLAH MAHA pemaaf, dan selalu menerima taubat mahluknya. tetapi agar taubat ini diterima tentu saja ada syarat-syaratnya coba simak info berikut :
Sepuluh hari yang penuh limpahan rahmat di bulan ramadhan telah kita lalui. Sepuluh hari kedepan adalah hari yang dijanjikan Allah sebagai waktu dilimpahkannya maghfirah atau ampunan. Inilah waktunya bagi kita, untuk bertaubat secara sungguh-sungguh, agar diri kita betul-betul bersih dari noda dosa masa silam. Taubat Nasuha atau taubat yang sungguh-sungguh itu memiliki beberapa syarat. Berikut syarat-syaratnya :
1. Menyesali atas dosa dan maksiat yang telah dilakukan.
Seorang hamba yang berdosa, bila ingin bertaubat harus menyesali perbuatan dosa dan maksiat yang terlanjur diperbuatnya. Tanpa perasaan menyesal, taubat kita belum bisa dikatakan nasuha atau bersungguh-sungguh.
2. Memohon ampun kepada Allah SWT, meminta maaf kepada manusia.
Bila kita kerap meninggalkan ibadah-ibadah mahdhah yang diwajibkan Allah SWT, maka mohon ampunlah kepada Allah SWT dan segeralah memperbaiki ibadah-ibadah yang sering kita lalaikan. Jika shalat masih sering diakhirkan maka segera awalkan, jika tidak pernah berpuasa maka segeralah melakukan shaum.
Untuk perkara-perkara ghayr mahdhah yang ada hubungannya dengan manusia, maka selain memohon ampun dan menyesali kedzhaliman kita, minta maaflah kepada orang yang telah kita sakiti. Bila orang itu berada jauh atau bahkan sudah meninggal, berdoalah demi kebaikannya, agar Allah menggerakkan hatinya untuk ridla terhadap apa yang telah kita perbuat. Tapi jika orang tersebut mudah untuk diajak bertatap muka dan mudah kita kunjungi, maka lebih utama bila kita mendatanginya untuk meminta maaf.
3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa atau maksiat serupa.
Niatkan dalam hati untuk tidak mengulangi dosa atau maksiat serupa. Sibukkan diri kita dengan memperbaiki ibadah mahdhah dan memperbaiki hubungan dengan sesama. Sehingga seluruh panca indera dan jiwa kita terbiasa melakukan kebaikan.(red/aea)
Taubat merupakan bentuk permintaan maaf kepada SANG PENCIPTA. ALLAH yang MAHA pemaaf saja telah menetapkan syarat-syarat agar permintaan maaf atau taubat diterima, apalagi manusia sebagai makluk yang memiliki rasa egosentris yang tinggi, akan menuntut hal yang lebih, karena merasa paling benar…tentu saja permintaan maaf antar makluk ini, dapat saja di asosiasikan dengan ketiga syarat tersebut.
1. Menyesali atas dosa dan maksiak yang dilakukan. menyesali artinya secara sadar merasa salah telah melakukan kesalahan dari aturan dan ketetapan yang telah digariskan. hal ini berarti permintaan maaf haruslah didahului dengan rasa bersalah dan menyesali. tetapi dalam kenyataan coba kita perhatikan, apakan permintaan maaf yang kita sampaikan melalui SMS, melalui Facebbolk kartu lebaran, iklan ditelevisi atau dengan cara konvensional dengan mendatangi sanak-saudara dan langsung sungkem meminta maaf, sudah didasari oleh rasa merasa bersalah, dan menyesali apa yang pernah kita perbuat ?
tentu saja sebagian besar dari kita menjawab belum tentu, atau “ntar dulu…, minta maaf sih minta maaf, tetapi tentang masalah itu saya tetap benar… dan dia yang salah….. “
walaupun secara jelas bahwa secara aturan sosial ataupun agama yang pernah kita pelajari, tindakan yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan, tetapi sangat sulit dan sangat jarang sekali, kita sebagai makluk menyadari bahwa itu adalah kesalahan, apalagi ada pihak lain yang berseberangan dengan pendapat kita, yang secara terus menerus menyerang pendapat kita, walaupun katanya saling memaafkan..
2. Memohon ampun kepada ALLAH SWT, meminta maaf kepada manusia. kalau menyimak point kedua ini, mungkin saja permintaan maaf yang dilakukan hanyalah sebuah sarana agar taubat yang dipanjatkan dapat diterima. tetapi tentu saja permintaan maaf yang benar-benar tuluslah yang memenuhi kriteria point kedua, yang tentu saja harus didukung oleh rasa bersalah (point satu…)
3. Bertekad untuk tidak mengulangi dosa atau maksiat serupa, bagaimana bisa memiliki tekad untuk mengulangi perbuatan tersebut, padahal disatu sisi tidak merasa bersalah melakukan perbuatan tersebut.
Mungkin tulisan ini terlalu mengada-ada, atau terlalu naif dalam memandang maaf dan memaafkan ini, dan tentu saja ada kemungkinan apa yang disampaikan ini terlalu berlebihan atau mungkin saja salah, tetapi tidak ada salahnya kita menelaah bagian kehidupan kita, bagian dari kebiasaan kita, apakah sudah sesuai dengan semestinya….
coba simak  tulis berikut ini :

Filosofis Maaf Dalam Islam
Mimbar Jumat – Artikel Jumat
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.


WASPADA Online
Oleh Sugeng Wanto, MA
Setiap manusia pernah melakukan kesalahan. Kesalahan, kekhilafan adalah fitrah yang melekat pada diri manusia. Rasulullah saw bersabda: “Setiap manusia pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik pelaku kesalahan itu adalah orang yang segera bertaubat kepada Allah SWT”. Ini berarti bahwa namusia yang baik bukan orang yang tidak pernah berbuat salah, sebab itu mustahil kecuali Rasulullah SAW yang ma’shum (senantiasa dalam bimbingan Allah SWT). Tetapi, manusia yang baik adalah manusia yang menyadari kesalahannya dan segera bertaubat kepada-Nya.
Dalam Islam, mampu memaafkan kesalahan orang lain merupakan salah satu ciri orang yang bertaqwa (muttaqin). Allah SWT berfirman: “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu, Allah menyediakan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa. Yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik diwaktu lapang atau sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain, Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Al-Imran: 133-134).
Belajar Memaafkan Dari Rasulullah
Setelah pembebasan Makkah (Fardhu Makkah), dihadapan orang-orang yang selama ini gigih memusuhinya, Rasulullah berkata : “Wahai orang-orang Quraisy. Menurut pendapat kamu sekalian apa kira-kira yang akan aku perbuat terhadapmu sekarang? Jawab mereka: “Yang baik-baik. Saudara kami yang pemurah. Sepupu kami yang pemurah.” Mendengar jawaban itu Nabi kemudian berkata: “Pergilah kamu semua, sekarang kamu sudah bebas.” Begitu luruh jiwa Nabi, karena dengan ucapan itu kepada kaum Quraisy dan kepada seluruh penduduk Makkah, beliau telah memberikan amnesty (ampunan) umum. Padahal saat itu nyata mereka tergantung hanya di ujung bibirnya dan kepada wewenangnya atas ribuan bala tentara Muslim yang bersenjata lengkap yang ada bersamanya. Mereka dapat mengikis habis penduduk Makkah dalam sekejap hanya tinggal menurut perintah dari Nabi.
Dengan pengampunan dan pemberi maaf itu, jiwa Nabi telah melampaui kebesaran yang dimilikinya, melampaui rasa dengki dan dendam di hati, menunjukkan bahwa beliau bukanlah manusia yang mengenal permusuhan, atau yang akan membangkitkan permusuhan di kalangan umat manusia. Beliau bukan seorang tiran, yang mau menunjukkan sebagai orang yang berkuasa. Padahal Nabi mengenal betul, kejahatan orang-orang yang diampuninya itu. Siapa-siapa di antara mereka yang berkomplot untuk membunuhnya, yang telah menganiayanya dan menganiaya para pengikutnya. Mereka melemparinya dengan kotoran bahkan dengan batu saat mengajak manusia ke jalan Allah. Begitu pemaafnya Rasulullah sekalipun itu kepada orang yang selalu menebar permusuhan, meneror dan mengancam keselamatannya. Rasulullah begitu pemaaf, Tuhan juga Maha mengampuni kesalahan hamba-Nya. Mengapa kita manusia biasa susah sekali memberikan kema’afan?.
Filosofis Maaf Dalam Islam
Ibnu Qudamah dalam Minhaju Qashidin menjelaskan bahwa makna memberi maaf di sini ialah sebenarnya engkau mempunyai hak, tetapi engkau melepaskannya, tidak menuntut qishash atasnya atau denda kepadanya. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Quran menjelaskan: Kata maaf berasal dari bahasa Al-Quran alafwu yang berarti “menghapus” karena yang memaafkan menghapus bekas-bekas luka di hatinya. Bukanlah memaafkan namanya, apabila masih ada tersisa bekas luka itu didalam hati, bila masih ada dendam yang membara. Boleh jadi, ketika itu apa yang dilakukan masih dalam tahaf “masih menahan amarah”. Usahakanlah untuk menghilangkan noda-noda itu, sebab dengan begitu kita baru bisa dikatakan telah memaafkan orang lain.
Islam mengajak manusia untuk saling memaafkan. Dan memberikan posisi tinggi bagi pemberi maaf. Karena sifat pemaaf merupakan bagian dari akhlak yang sangat luhur, yang harus menyertai seorang Muslim yang bertakwa. Allah swt berfirman: “…Maka barangsiapa yang memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya atas tanggungan Allah.” (Q.S.Asy-Syura : 40). Dari Uqbah bin Amir, dia berkata: “Rasulullah SAW bersabda, “wahai Uqbah, bagaimana jika kuberitahukan kepadamu tentang akhlak penghuni dunia dan akhirat yang paling utama? Hendaklah engkau menyambung hubungan persaudaraan dengan orang yang memutuskan hubungan denganmu, hendaklah engkau memberi orang yang tidak mau memberimu dan maafkanlah orang yang telah menzalimimu.” (HR.Ahmad, Al-Hakim dan Al-Baghawy).
Al-Quran memang menetapkan, bahwa seseorang yang diperlakukan secara zalim diizinkan untuk membela diri tapi bukan didasarkan balas dendam. Pembelaan diri dilakukan dengan penuh simpati seraya menunjukan perangai yang luhur, bersabar, memaafkan dan toleran. Ketika Matsah yang dibiayai hidupnya oleh Abu Bakar menyebarkan gosip yang menyangkut kehormatan putrinya Aisyah yang juga istri Nabi. Abu Bakar bersumpah tidak akan membiayainya lagi. Tapi, Allah melarangnya sambil menganjurkan untuk memberika maaf dan berlapang dada.(Q.S. an-Nur : 22). Dari ayat ini ternyata ada tingkatan yang lebih tinggi dari alafwu (maaf), yaitu alshafhu. Kata ini pada mulanya berarti kelapangan. Darinya dibentuk kata shafhat yang berarti lembaran atau halaman, serta mushafahat yang berarti yang berarti berjabat tangan. Seorang yang melakukan alshafhu seperti anjuran ayat diatas, dituntut untuk melapangkan dadanya sehingga mampu menampung segala ketersinggungan serta dapat pula menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru.
AlShafhu yang digambarkan dalam bentuk jabat tangan itu, menurut Al-Raghib al-Asfahaniy “lebih tinggi nilainya” dari pada memaafkan. Dalam alshafhu dituntut untuk mampu kembali membuka lembaran baru dan menutup lembaran lama.” Let’s gone be by gone (yang lalu biarlah berlalu)” bangun kembali masa depan dengan semangat yang baru. Kita selalu lupa, karena kesalahan yang telah dibuat orang lain, kita lalu melupakan semua kebaikan yang telah dibuatnya. Untuk itu, kita juga harus memperlakukan semuanya secara seimbang. Yang terbaik buat kita hari ini adalah bersama-sama membangun kembali dengan semangat baru, ketulusan hati dan semangat persaudaraan. Jangan ada yang berkata: “Tiada maaf bagimu”. Ahli hikmah mengatakan: Ingatlah dua hal dan lupakanlah dua hal. Lupakanlah kebaikanmu kepada orang lain dan lupakanlah kesalahan orang lain kepadamu. Wallahu a’lamu.

* Penulis adalah Dosen FS. IAIN-SU Medan, Dosen STAIS TTD, Trainer Wisata Hati MC-Leadershif Ceneter SUMUT, Staf Divisi Kajian Shafia Institut Medan dan Sekretaris Komisi Pengkajian dan Pengembangan MUI-Sergai
kalau ada pendapat yang lebih berilmu…. tentu akan sangat bermaafat bagi kita semua…. silahkan mengomentarinya… menambahkannya… mengkoreksinya….
ini hanya sekedar kotemplasi diri dari sebuah kedangkalan ilmu dalam memandang hidup…
Assalam mu’alaikum, Kullu’aam wa antum bikhair, Taqabballahu minnaa wa minkum, Minal Aidhin wal faizin.. Mohon Maaf lahir batin…
Salam Indonesia….

Komentar