6 Sep 2011

Memahami Kesalahan


Masih dipengaruhi agungnya bulan Ramadhan yang diakhiri oleh 1 syawal sebagai hari kemenangan bagi umat islam yang menjalankan puasa dengan ikhlasnya. meminta maaf berarti memahami kesalahan kita kepada orang lain baik itu secara sengaja maupun tidak sengaja, terasa maupun tidak terasa. oleh karena itu marilah kita renungkan sejenak dan pahami apa yang telah kita lakukan, apakah itu benar atau salah, siapa yang akan menjadi penilai hal ini. yakinkah bahwa kita banyak kesalahan atau kita percaya diri tidak pernah membuat kesalahan?.

ataukah kita sudah bertobat akan kesalah-kesalahn kita yang telah lalu?

Dari banyaknya untaian mutiara hadits Rasulullah SAW, ada satu hadits yang sangat populer, hadits ini merupakan salah satu dari kaidah emas yang diajarkan baginda Rasulullah SAW kepada kita umatnya agar menjadi salah satu kunci pembuka surga, hadits tersebut adalah :

“Seorang mukmin tidak akan digigit dua kali dari lobang yang satu (sama)” 

Hadits
 sahih ini diriwayatkan oleh Imam Bukhory dan Imam Muslim. Matan hadits ini disederhanakan menjadi ; "Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali" teks kedua ini dijadikan prinsip penting oleh sebuah lembaga manajemen terapan yang memfasilitasi program pengembangan SDM untuk training, konsultasi, dan seminar. Dengan pendekatannya yang unik lembaga tersebut sudah banyak menuntun orang menjadi pribadi yang sukses. 

Dalam buku yang dibuat oleh tokoh-tokohnya, saya menemukan beberapa kiat agar kita dapat mengamalkan hadits tersebut :

Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali, strategi untuk mengantisipasinya adalah :
1.         Pahami kesalahanya
2.         Ingatlah kesalahan, agar tidak lupa dan terulang
3.         Pecahkan masalahnya, sehingga tidak berulang
4.         Antisipasilah, sehingga tidak terulang
5.         Kendalikan emosi anda agar tidak tergoda melakukannya lagi
6.         Catatlah dampak negativnya sebanyak mungkin, sehingga kita takut akan terulang
7.         Bertanyalah, sehingga kita mengerti
8.         Pelajari situasinya, tempatnya, ciri-cirinya, sehingga deteksi dini lebih diutamakan
9.         Ingatlah keledai, keledai, dan keledai. Malulah kita karena sering mengulangi kesalahan dua kali berturut-turut, itu seperti kebiasaan keledai dan kita bukan keledai.
10.      Jadikan kesalahan sebagai pelajaran dan guru, sehingga kesalahan itu akan mengajari kita.  

Saya melihat bahwa point-point tersebut masih bisa di jabarkan secara rinci supaya strategi yang dibuat semakin jelas dan dapat dimengerti secara mudah. Agar lebih mudah dipahami serta diaplikasikan, saya menyertakan beberapa ilustrasi kasus.

1. Memahami Kesalahan


Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali, strategi untuk menghindari ini adalah ; pahami kesalahanya. Bagian yang paling utama dari "memahami kesalahan" adalah mengakui bahwa itu adalah sebuah kesalahan.

Dokter bisa mengobati sang pasien karena pasien itu datang dan mengaku bahwa dirinya sakit. oleh karena pemahaman sang pasienlah dokter melakukan upaya penyembuhan, mulai dari rangkaian pemeriksaan sampai kepada diagnosa dan identifikasi jenis penyakit sampai kepada pemberian obat.  Jadi langkah awal agar kesalahan bisa dihindari atau diperbaiki maka kita harus mengidentifikasi dan mengakui kesalahan tersebut. sibuk menyalahkan orang lain atau sibuk membela diri bukan sikap yang ideal.

2. Ingatlah Kesalahan, Agar Tidak Lupa dan Terulang

Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali, strategi berikutnya  adalah ; senantiasa mengingat kesalahan yang pernah kita buat, bahkan seorang muslim yang pintar akan senantiasa mengenang kesalahanyang pernah dibuat oleh orang lainn. Memang bukan hal yang menyenangkan mengingat-ingat kejadian yang membuat kita malu, membuat kita sedih, dan marah kepada diri sendiri. Namun begitulah kehidupan kita melihat masa lalu supaya kita mendapat pelajaran demi kehidupan di masa depan yang lebih baik.

“ Hari kiamat, apakah hari kiamat itu? dan tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? kaum Tsamud dan 'Aad telah mendustakan hari kiamat. Adapun kaum Tsamud, Maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa. Adapun kaum 'Aad Maka mereka telah dibinasakan dengan angin yang sangat dingin lagi Amat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus menerus; Maka kamu Lihat kaum 'Aad pada waktu itu mati bergelimpangan seakan-akan mereka tunggul pohon kurma yang telah kosong (lapuk). Maka kamu tidak melihat seorangpun yang tinggal di antara mereka dan telah datang Fir'aun dan orang-orang yang sebelumnya dan (penduduk) negeri-negeri yang dijungkir balikkan karena kesalahan yang besar. Maka (masing-masing) mereka mendurhakai Rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras. Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu, ke dalam bahtera, agar Kami jadikan Peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.” (QS Al-Haqqah : 1- 12)

Allah banyak menuturkan kisah-kisah masa lalu, terutama kesalahan-kesalahan dari orang-orang di masa lalu misalnya seperti kaum ad, kaum nuh, kaum nya Nabi sholeh dsb. Salah satu tujuannya adalah agar  kita mengingat kesalahan tersebut, mengenang kesalahan tersebut. Namun tidak cuma mengingat, tidak cuma mengenang tanpa tujuan, tetapi mengingatnya agar tidak terjadi pada diri kita. Biasakan untuk jangan melupakan suatu kesalahan.  


3. Pecahkan Masalahnya, Sehingga Tidak Berulang

Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali, strategi berikutnya untuk menghindari hal buruk itu adalah ; pecahkan masalahnya, sehingga kita tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Suatu kesalahan yang kita buat pasti ada sebab musababnya, misalnya seseorang tidak lulus ujian kenaikan kelas. Dia harus melakukan intropeksi agar tahu apa kesalahan yang dia buat sehingga nilainya jelek dan dia menemukan sebabnya karena dia malas belajar. Selanjutnya orang ini harus memecahkan masalah kemalasan ini, dia harus berupaya untuk mencari cara mengatasi kemalasannya tersebut.

Atau suatu saat kita berkata tentang sesuatu yang menyakiti hati teman kita. Harus kita cari apa sebabnya, bisa jadi kita terlalu banyak bercanda, bisa jadi kita mengatakan sesuatu pada tempat yang tidak tepat, atau hal-hal lain. Nah inilah yang mesti kita perbaiki dengan memperbaiki sebab dari lahirnya satu kesalahan akan menghilangkan kemungkinan kesalahan itu akan terulang lagi.   

4. Antisipasilah, Sehingga Tidak Terulang
 
Salah satu ciri muslim yang sukses adalah memiliki kemampuan memproyeksi suatu kejadian, bersifat antisipatif dan inovatif. Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali, mengantisipasi kesalahan adalah satu strategi penting agar kita tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama. 

Kembali ke ilustrasi di atas, misalnya seseorang tidak lulus ujian kenaikan kelas. setelah dia melakukan intropeksi dan tahu bahwa sebab dari ketidaklulusannya adalah malas belajar. Dan dia sadar bahwa kelak dia masih akan menghadapi ujian lagi, maka kemalasannya belajar ini mesti diantisipasi, mesti dicari sebab kenapa dia malas belajar. banyak hal yang bisa dicoba misalnya membentuk grup belajar. Biasanya aktivitas belajar bersama teman-teman melahirkan semangat dan motivasi lebih besar ketimbang belajar sendiri. Semangat belajar kadang bisa ditingkatkan sambil menyetel musik misalnya, banyak lagi tips 

5. Kendalikan Emosi Anda, Agar Tidak Tergoda Melakukannya Lagi!
  
Seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali. Terdapat jenis kesalahan yang terus berulang karena kita tidak dapat mengendalikan emosi. Maka, strategi berikutnya agar tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali adalah kendalikan emosi agar kita tidak tergoda melakukannya lagi.

Contoh yang mudah berkenaan dengan ini adalah amarah. Amarah bukan sifat yang haram ada dalam diri seorang muslim, tetapi amarah adalah sifat yang mesti ditempatkan secara hati-hati. Marah terhadap ketidakadilan, marah kepada pelaku kejahatan, marah dalam peperangan, merupakan contoh dari penempatan yang tepat. Energi kemarahan ditumpahkan dalam wadah kejadian yang tepat.

Amarah apabila ditempatkan secara keliru akan melahirkan banyak mudhorot. Amarah yang berlebihan juga banyak melahirkan jenis kesalahan yang akan kita sesali. Belum lama, ada kejadian seorang bapak yang tak sengaja mencelakai anaknya sendiri. Lelah sepulang kantor, stres karena mengalami kemacetan, masalah pekerjaan dan rizki yang tak lancer, membuatnya kehilangan kesabaran saat si anak menyambutnya di depan pintu rumahnya dengan permintaan uang untuk membeli sesuatu yang sangat tidak penting. Sang ayah terpancing, tak mampu mengendalikan dirinya. Sontak dipukullah anaknya dengan penuh amarah tepat di kepalanya. Anaknya langsung pingsan dan mengalami masalah serius di rumah sakit.

"Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka, dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka), maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS At - Taghaabun : 14 )

Ayat diatas menekankan kepada kaum muslimin agar bersabar dalam menghadapi keluarga. Sebagian besar kecelakaan lalu lintas terjadi gara-gara orang tidak pandai mengendalikan emosi. Yusuf Qhardawi pernah menulis bahwa syetan paling banyak beroperasi di jalan raya. Terkadang amarah kita sudah tersulut hanya gara-gara sepele, misalnya kendaraan kita disalip, tersinggung karena kendaraan belakang banyak mengklakson, dsb. Kendalikan emosi, maka akan banyak kesalahan yang takkan terulang lagi.   Bersabar adalah kualitas yang harus ada dalam diri seorang muslim. Allah jelas memerintahkan ini dalam firmanNya :

"dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri." (QS Ath-Thuur : 48)

"Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung." (QS Ali-Imran : 200)


6. Catatlah dampak negatifnya sebanyak mungkin, sehingga kita takut akan terulang.

Nah, pertanyaanya, mengapa suatu perbuatan atau amalan bisa dikerjakan berulang kali? Salah satu sebabnya adalah karena di dalam perbuatan itu terkandung manfaat yang banyak dan besar. Semakin banyak dan besar manfaat yang dilahirkan dari satu perbuatan, maka akan semakin besar dorongan untuk mengulangi lagi perbuatan tersebut.
 

Demikian pula dengan kesalahan, suatu perbuatan yang keliru dan amalan yang buruk, dihindari karena didalam perbuatan tersebut terkandung keburukan yang merugikan. Maka, salah satu strategi agar seorang muslim tidak melakukan kesalahan yang sama lebih dari dua kali adalah mencatat dampak negatif dari sebuah kesalahan sebanyak mungkin, sehingga kita akan takut mengulanginya lagi.

Mari kita sambung ilustrasi di atas, mengenai seorang bapak yang lepas kendali sehingga memukul anaknya sendiri. Dirumah sakit sang bapak dengan penuh penyesalan, mengkalkulasi efek buruk dari perbuatan kelirunya. Pertama, nasib sang anak. Ia mengalami gegar otak. Nyawanya terancam, kemampuan pikirannya juga terancam. Beruntung kalau dia bisa pulih seperti sedia kali. Belum lagi efek negatif psikologisnya, si anak bisa sakit hati keapada sang ayah. Dalam banyak kasus kekerasan seperti ini lebih sering melahirkan kenakalan baru ketimbang menciptakan seorang anak yang patuh. Belum lagi kerugian materil, dsb. Dengan mencatat sebanyak-banyaknya akibat buruk dari satu kekeliruan, maka kita akan memiliki motivasi yang kuat untuk menghindari berulangnya kesalahan tersebut. 

ditulis oleh: Purwanto Abd-Alghaffar

0 komentar:

Posting Komentar

Bagi Kawan-Kawan Mohon untuk tidak memberikan Komentar SPAM, hal ini untuk kita bisa saling menghargai....
Untuk Sementara waktu admin akan memakai moderasi komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...