18 Feb 2013

Pembukaan O2SN dan Apresiasi Seni SD Kecamatan Campakamulya Tahun 2013

O2SN dan Apresiasi Seni
Di awali dengan defile yang dilaksanakan oleh seluruh sekolah dasar yang berada di Kecamatan Campakamulya sebanyak 18 SD, ditambah oleh kontingen undangan berupa drumband dari SMPN 1 Campakamulya, MTs Martaussyibyan dan MTs Muslimin rangkaian kegiatan Olimpiade Olah Raga Siswa Nasional (O2SN) dan Apresiasi Seni Sekolah Dasar Tingkat Kecamatan Campakamulya dimulai.

Dengan antusias para peserta melaksanakan defile yang diawali dari daerah Bojongsari Desa Campakamulya ((kurang lebih 5 km) dan berakhir di lapangan campakamulya. setelah itu dilaksanakan Upacara pembukaan dengan inspektur upacara perwakilan Muspika, yaitu Subakat (dan kaposmil campakamulya). Upacara pembukaan tersebut juga dihadiri oleh Sekcam Campakamulya, Kasubsektor, Kepala Puskesmas dan Tokoh Pendidikan Kecamatan Campakamulya.

Pada Kesempatan ini juga diumumkan hasil dari Lomba tata upacara bendera dan wawasan wiyata mandala sekolah dasar tingkat Kecamatan Campakamulya Tahun 2013.

Selamat bertanding para peserta.... maju terus pantang mundur
Baca selengkapnya >>

14 Feb 2013

Mengenal Boneka Horta


boneka horta
Boneka Rumput ”HORTA” merupakan suatu media tanam yang dikemas dalam bentuk boneka dengan bagian kepala dapat ditumbuhi rumput. Mainan ini merupakan jenis mainan baru di Indonesia. Boneka ini sangat cocok digunakan sebagai latihan untuk anak-anak merawat tanaman.

Permainan ini dimulai ketika anak merendam kepala boneka di air kemudian mengamati pertumbuhan rumput dibagian kepala boneka setiap hari. Pada saat rumput telah memenuhi kepala boneka, anak dapat berkreasi dengan memangkas rumput menjadi bentuk yang diinginkan.

Boneka Horta terbuat dari serbuk kayu yang dibentuk berbagai macam (seperti kepala orang, panda, kura-kura, sapi, babi, kodok, kucing, gajah, kuda, macan) dan benih rumput di atasnya yang jika disiram dapat tumbuh rambut berupa rumput dikepalanya. Disajikan dalam kemasan yang belum ditumbuhi rumput.

Boneka Horta sangat diminati banyak kalangan di seluruh Indonesia. Terbukti distributornya sudah di seluruh Indonesia bahkan beberapa di luar negeri. Liputan televisi dan media cetak sudah banyak dimuat mengenai Boneka rumput Horta.

Boneka HORTA cocok untuk segala kalangan umur sebagai :
kado/hadiah pesta, ulang tahun, valentine
souvenir kegiatan kantor (bisa dipasang logo perusahaan)
souvenir pernikahan, tersedia tipe panda dan kura-kura kecil
hiasan untuk memperindah kantor/rumah
hobby merawat atau koleksi tanaman
alat pembelajaran pada anak ( Melatih kedisiplinan, rasa cinta lingkungan, kasih sayang).
Boneka Horta UNIK : Boneka Horta termasuk produk ide baru yang sangat menarik. Memilikinya akan membuat perasaan puas dan menyenangkan.
Boneka Horta KREATIF : Boneka Horta mengajak pemiliknya merawat rambutnya secara bebas sesuai imajinasi dan mengasah kreatifitas. Sehingga aktivitas merawatnya menumbuhkan pola pikir kreatif dan imajinatif.
Boneka Horta EDUKATIF : Boneka Horta memberi wawasan ilmu lingkungan dimana anak bisa belajar cara menumbuhkan tanaman, belajar proses pertumbuhan tanaman, belajar tentang fotosintesis, belajar tentang etiolasi, belajar tentang hidroponik, dan juga menumbuhkan kecintaan pada lingkungan.
Boneka rumput horta cocok dijual di :
Mall atau Pusat Perbelanjaan
Pasar Kaget
Pameran atau Expo
Sekolah atau Kampus

Tempat Wisata
Taman Bermain


Pemesanan via sms ke 081519218214.
sumber: http://www.bonekahorta.biz/2009/03/mau-tahu-apa-itu-boneka-horta.html

Baca selengkapnya >>

6 Feb 2013

Anggaran Bantuan Rp48,01 Miliar untuk Daerah Terpadat Buta Aksara

Anggaran Bantuan Rp48,01 Miliar
untuk Daerah Terpadat Buta Aksara

JAKARTA. Sebagai tanda keberlanjutan “perjuangan” pemberantasan buta aksara, tahun ini Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (Ditjen PAUDNI) mengganggarkan bantuan sebesar Rp48,01 miliar. Bantuan ini diprioritaskan bagi daerah terpadat buta aksara di Indonesia.

“Meskipun, Indonesia sudah mengurangi 50 persen jumlah buta aksara sejak tahun 2000, dan berhasil melampaui target yang harusnya dicapai pada tahun 2015, tapi jumlah buta aksara di Indonesia masih besar,” kata Direktur Jenderal PAUDNI di Jakarta, Kamis (31/1).

Dijelaskan Lydia, yang akrab dikenal dengan Reni Akbar-Hawadi, berdasarkan data tahun 2011 jumlah penduduk Indonesia berusia 15-59 tahun yang masih buta aksara ada 6,7 juta orang. Sebanyak 2,26 juta orang adalah laki-laki dan 4,46 juta perempuan.

Berdasarkan penyebarannya, sebanyak 5,41 juta orang atau 80,52 persen buta aksara berada di 13 provinsi di Indonesia. Di antara daerah-daerah tersebut, secara khusus terdapat enam provinsi dengan jumlah buta aksara lebih dari 200.000 orang. Jawa Timur dan Jawa Tengah pun bertengger pada peringkat atas daerah terpadat buta aksara.

Dari provinsi-provinsi tersebut, sebanyak 2,54 juta orang tersebar di 33 kabupaten dengan jumlah buta aksara di atas 50.000 orang. Kabupaten Nias Selatan di Sumatera Utara menjadi yang terpadat di Indonesia.

Di daerah-daerah terpadat buta aksara itulah pemberian bantuan akan diutamakan. Untuk mengentaskan buta aksara di ketiga belas provinsi itu, telah dianggarkan sejumlah dana bantuan sebesar Rp24,77 miliar dari Ditjen PAUDNI. Sementara untuk 33 kabupaten yang terpadat buta aksara, dianggarkan bantuan sejumlah Rp23,22 miliar. Dari anggaran itu ditargetkan sejumlah 133.320 orang sasaran bisa tersentuh.

Harus tuntas

Keberadaan buta aksara memiliki hubungan yang erat dengan tingkat kemiskinan. Setidaknya, berdasarkan data Ditjen PAUDNI, terdapat tujuh provinsi dengan angka kemiskinan yang tinggi disertai jumlah buta aksara yang tinggi, yaitu Papua Barat, Papua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tengggara Barat (NTB), Jawa Tengah, Sulawesi Tenggara, dan Jawa Timur.

Penduduk buta aksara umumnya tinggal di daerah perdesaan seperti petani kecil, buruh, nelayan, dan kelompok masyarakat miskin perkotaan yaitu buruh penghasilan rendah atau penganggur.

Mereka tertinggal dalam hal pengetahuan, keterampilan, serta sikap mental pembaharuan dan pembangunan. Akibatnya akses terhadap informasi dan komunikasi juga terbatas mereka akses karena tidak memiliki kemampuan keaksaraan yang memadai.

Itulah sebabnya, penuntasan buta aksara menjadi salah satu perhatian Pemerintah. Untuk mempercepat penuntasan buta kasara, Reni menyatakan, inovasi model pembelajaran perlu untuk selalu dikembangkan oleh unit pelaksana teknis di lingkungan Ditjen PAUDNI.

“Inovasi itu muncul dari keberanian berpikir di luar kebiasaan, think out of the box. Selain itu inovasi juga memenuhi kelancaran berpikir, fleksibel, elaborasi, dan tentunya penting sekali bersifat orisinal, “ ujar Reni menjelaskan.

Diingatkan pula oleh Reni, model pembelajaran yang dikembangkan harus mencakup segala umur. Penduduk buta aksara yang berusia 60 tahun ke atas, kata Reni, juga memiliki hak memperoleh pendidikan. Jumlah mereka pun tidak sedikit.

“Jika penduduk buta aksara di Indonesia dihitung hingga usia 60 tahun ke atas, maka jumlah mereka besar sekali, mencapai 13,9 juta orang,” ujar Reni. (Dina Julita/HK)


Baca selengkapnya >>

4 Feb 2013

Ingin Anak Cerdas dan Sehat, Ayo Minum Susu !

Ingin Anak Cerdas dan Sehat, Ayo Minum Susu!

MALANG. “Pak, anak-anak bapak minum susu tidak?”

Itulah pertanyaan yang dilontarkan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal, dan Informal (PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog kepada Suyono, salah satu peternak sapi perah di Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Rabu (16/1) dini hari.

“Para peternak yang memiliki sapi perah dan memproduksi susu setiap hari, tenyata banyak yang tidak memberikan susu kepada anak-anaknya,” kata Lydia yang juga dikenal sebagai Reni Akbar-Hawadi memberikan kesimpulan saat melakukan kunjungan ke daerah perternakan sapi perah dan pos pengumpulan susu segar Koperasi  Agro Niaga (KAN) Jaya Abadi Unggul di Jabung.

Diakui oleh Manajer KAN Jaya Abadi Unggul Eva Martianti, banyak peternak sapi perah yang tidak membiasakan minum susu kepada anak-anaknya. Ini tidak lain karena nilai ekonomis yang terdapat pada susu.

“Seliter susu sapi rata-rata dihargai Rp3.450 di sini. Jika mereka menyediakan susu untuk keluarga, maka ini akan mengurangi pendapatan mereka,” kata Eva.

Eva menyatakan, koperasi yang menaungi 1.600 peternak sapi perah dan 200 petani ini sebenarnya telah menyosialisasikan kebiasaan minum sapi kepada para anggotanya. Hal itu senantiasa dilakukan saat memberikan pelatihan atau pembinaan.

“Akan tetapi, usaha kami tidak terlalu berdampak besar. Agak sulit memberikan kesadaran kepada anggota kami mengenai pemenuhan gizi kepada anak,” ujar Eva.

Oleh karena itu, mulai tahun ini, koperasi yang menyuplai 34 ton susu setiap hari kepada Nestle Indonesia ini merencanakan akan membagi-bagikan susu gratis tiap pagi ke PAUD-PAUD sekitar di Jabung.

“Kami harap ini bisa membantu peningkatan gizi anak usia dini, sembari kami memberikan kesadaran kepada orang tua,” tutur Eva.

Pada kegiatan yang sama, Direktur Pembinaan PAUD Erman Syamsuddin mengusulkan kepada Nestle Indonesia untuk menggiatkan gerakan minum susu kepada anak-anak peternak yang bekerja sama dengan perusahaan yang membidangi gizi tersebut.

“Seperti yang kita ketahui, sejak dulu susu bukanlah barang yang murah. Masih banyak anak-anak Indonesia tidak terbiasa minum susu,” kata Erman.

Gizi dan PAUD Holistik Integratif

Gizi, merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Direktorat Jenderal PAUDNI. Disadari, untuk tumbuh kembang anak usia dini, maka segala kebutuhan esensi anak harus terpenuhi. Kebutuhan tersebut adalah gizi, kesehatan, pendidikan, perawatan, pengasuhan, kesejahteraan, dan perlindungan.

Oleh karena itulah Ditjen PAUDNI mendorong penyelenggarakan bentuk PAUD holistik integratif, yaitu PAUD yang mencakup layanan terhadap pemenuhan seluruh kebutuhan dasar anak, tidak hanya pendidikan. Jenis layanan ini, banyak diselenggarakan di Pos PAUD yang terintegrasi bersama pos pelayanan terpadu (posyandu) serta Bina Keluarga Balita (BKB). (Dina Julita/HK)

Baca selengkapnya >>