23 Okt 2012

Ditjen PAUDNI Usulkan Kenaikan Tunjangan Pamong Belajar


JAKARTA. Kesejahteraan pamong belajar perlu ditingkatkan lagi. Untuk itu, saat ini tengah diusulkan kenaikan tunjangan fungsional bagi pamong belajar.

Demikian disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Nonformal dan Informal (Dirjen PAUDNI) Prof. Dr. Lydia Freyani Hawadi, Psikolog saat membuka secara resmi kegiatan Bimbingan Teknis Calon Tim Penilai Jabatan Fungsional Pamong Belajar dan Angka Kredit, di Hotel Belezza Suites Jakarta, Senin (8/10).

Pakar psikolog keberbakatan yang akrab dipanggil Reni Akbar Hawadi ini mengungkapkan keprihatinannya atas tunjangan fungsional pamong belajar yang saat ini belum sesuai dengan yang diharapkan. Selain itu, jumlah pamong belajar juga dinilai Reni belum maksimal.

“Jumlah pamong belajar yang ada saat ini sejumlah 3.476 orang. Sementara idealnya berdasarkan koridor MP3EI berjumlah 10.127 orang,” kata Reni.

Ia berharap nantinya tunjangan fungsional pamong belajar sama dengan tunjangan guru pada pendidikan formal. “Saat ini kami sedang mengusulkan tambahan tunjangan fungsional bagi pamong belajar. Selain itu kami mengusulkan tambahan tenaga untuk pamong belajar”, tutur Reni. (Teguh Susanto/HK)

Sumber: http://www.paudni.kemdikbud.go.id/dirjen-paudni-usulkankenaikan-tunjangan-fungsional-pamong-belajar/
Baca selengkapnya >>

22 Okt 2012

Sejarah Kerajinan Kaca

Sejarah Kerajinan Kaca

Pada kesempatan kali ini saya akan sedikit menjelaskan tentang asal mula kerajinan kaca di gunakan manusia. Kaca diambil dari bahan alami, ditemukan saat ada sebagian dari letusan gunung berapi dalam bentuk batu yang mencair. Setelah batu-batu itu mengeras,   oleh manusia Zaman Batu digunakan sebagai alat pemotong karena pada bagian tepinya tajam. Tetapi , diyakini bahwa sekitar 3500 SM buatan obyek gelas pertama  ditemukan di Mesir dan Timur Mesopotamia dalam bentuk vas dan pot dan dari sana kemungkinan para  Phoenician  (peradaban kuno) sepanjang pantai Mediterania berasal. Kaca berongga juga sudah di produksi dan berkembang pada abad ke-16 SM di Mesir dan  beberapa wilayah produksi Yunani, China dan Tyrol Utara


KERAJINAN KACA kuno
Pengerajin kaca Mesir Setelah 1500 SM diketahui telah mulai mengembangkan metode memproduksi pot kaca dan contoh paling awal dari Mesir gelas tiga vas bantalan nama pharaoh Thoutmosis  3 yang membawa glassmakers ke Mesir sebagai tawanan perang dari Asia. Selama tahun-tahun berikutnya produksi kaca dianggap menyebar dari Alexandria ke Italia.
Penemuan glassblowing ini disebabkan pengrajin Suriah dari daerah Sidon-Babel.  tetapi Romawi kuno mulai kemudian meniup kaca di dalam cetakan unyuk menghasilkan berbagai bentuk. Roma wilayah yang  mulai menggunakan kaca untuk tujuan arsitektur, dengan penemuan kaca yang bening (melalui pengenalan oksida mangan). Akan tetapi wilayah Mesir/ Alexandria tetap daerah pembuatan kaca paling penting di Timur, memproduksi barang-barang mewah kaca terutama untuk ekspor.

Menjelang tahun 1000 M, perubahan yang signifikan dalam teknik pembuatan gelas Eropa berlangsung. Mengingat kesulitan dalam mengimpor bahan baku, soda kaca bertahap digantikan oleh kaca dibuat dengan menggunakan kalium yang diperoleh dari pembakaran pohon. Pada titik ini, kaca yang terbuat utara Alpen mulai berbeda dari kaca yang dibuat di daerah Mediterania, dengan Italia, misalnya, menempel soda abu sebagai bahan baku dominan.

Di Abad pertengahan, kota Venesia Italia memainkan perananya sebagai pusat pembuatan gelas dari dunia barat. Armada pedagang Venesia memerintah gelombang Mediterania dan membantu pengrajin kaca pasokan Venesia dengan pengetahuan teknis sebagaimana  rekan-rekan mereka di Suriah, dan dengan pengaruh artistik Islam. Sampai akhir abad ke-13, pembuatan gelas paling di Venice terjadi di kota itu sendiri. Namun, kebakaran yang sering disebabkan oleh tungku api yang berlebih.  Pada 1291, mendapat pesanan  pembuatan gelas ke pulau Murano.

Pada abad ke-14, sentra industri pembuatan gelas yang lain dikembangkan di Italia Altare, dekat Genoa dan selama abad ke-16, pengrajin dari Altare membantu memperluas gaya dan teknik baru dari kaca Italia ke bagian lain dari Eropa, khususnya Perancis. Pada paruh kedua abad ke-15, pengrajin Murano mulai menggunakan pasir kuarsa dan kalium yang terbuat dari tumbuhan laut untuk menghasilkan kristal sangat murni. Pada akhir abad ke-16, sekitar 3.000  dari 7.000 penduduk pulau itu ikut dalam beberapa cara dalam industri pembuatan gelas.

Perkembangan kristal timbal telah dikaitkan dengan beberapa pengerajin gelas Inggris, yang dipatenkan kaca baru di 1674. Dia telah ditugaskan untuk mencari pengganti kristal Venesia yang diproduksi di Murano dan berdasarkan pasir kuarsa murni dan kalium. Dengan menggunakan proporsi yang lebih tinggi dari oksida timah bukan kalium, ia berhasil memproduksi sebuah gelas yang brilian dengan indeks bias tinggi yang sangat cocok untuk memotong mendalam dan ukiran. Pera pengeajin kaca tidak berhenti sampai tahap terakhir dari Revolusi Industri, bagaimanapun, bahwa teknologi mekanik untuk produksi jumlah banyak dan  penelitian ilmiah yang mendalam  hubungan antara komposisi kaca dan kualitas fisik mulai muncul di industri.

Seorang tokoh kunci dan salah satu dari nenek moyang penelitian kaca modern beberapa ilmuwan Jerman, yang menggunakan metode ilmiah untuk mempelajari efek dari berbagai unsur kimia pada sifat optik dan termal dari kaca, juga menemukan tungku tangki. Hal ini dengan cepat menggantikan tungku panci tua dan memungkinkan produksi terus menerus dalam jumlah jauh lebih besar dari kaca cair. Menjelang akhir abad ke-19, beberapa insinyur Amerika menemukan mesin otomatis meniup botol yang baru tiba di Eropa setelah pergantian abad.

Meskipun perkembangan pembuatan kaca berkembang terakhir 40 tahun lalu, tetapi perkembangan teknologi tentang kaca secara alami terus-menerus akan berkembang. kedepan kaca juga digunakan dalam perkembangan teknologi   seperti:  sistem kontrol terkomputerisasi, teknik pelapisan, teknologi kontrol surya dan “materi pintar”, integrasi mikro-elektronik dan mekanik tahu-cara membuat kaca yang mampu untuk “bereaksi” terhadap kekuatan eksternal. KERAJINAN KACA ok!………….


Baca selengkapnya >>

21 Okt 2012

RPP Tematik Kelas 2 : Saling Menghormati | Pertemuan 5, 6, 7 dan 8

saling menghormati
TEMA                         : SALING MENGHORMATI
KELAS /SEMESTER : 2 (dua)/ 1 (satu)
WAKTU                 : 4  kali pertemuan @ 5 JP/hari (4 hari)
I.   KOMPETENSI DASAR
§ Mengenal pentingnya hidup saling menghormati (PKn).
§ Mengenal pentingnya hidup saling menghormati (IPS).
§ Mendengarkan: Menyebutkan kembali dengan kata-kata atau kalimat sendiri isi teks pendek (BI).
§ Berbicara: Menceritakan kegiatan sehari-hari dengan bahasa yang mudah dipahami orang lain.
§ Membaca: Menyimpulkan isi teks pendek (10-15 kalimat) yang dibaca dengan membaca lancer.
§ Menulis: Menulis kalimat sederhana yang didiktekan guru dengan menggunakan huruf tegak bersambung dan memperhatikan penggunaan huruf kapital dan tanda titik.
§ Melakukan alat ukur waktu dengan satuan jam (MAT).
§ Menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan mengurutkan bilangan.
§ Mengidentifikasi ciri-ciri benda padat dan cair yang ada di lingkungan sekitar (IPA).
§ Mengekspresikan diri melalui gambar ekspresif (SE-BUD & KETRMPL).
§ Mengidentifikasi unsur musik dari berbagai sumber bunyi yang dihasilkan oleh benda bukan alat musik.
§ Menyanyikan lagu wajib dan lagu anak dengan atau tanpa iringan sederhana.

II.   INDIKATOR
§ Menyebutkan pentingnya  saling menghormati (PKn).
§ Menceritakan akibat jika tidak saling menghormati diantara sesama teman.
§ Menjelaskan tata cara saling menghormati.
§ Menyebutkan pentingnya  saling menghormati (IPS).
§ Menceritakan cara menghormati dalam keluarga.
§ Menjelaskan pentingnya saling menghormati di tempat umum.
§ Menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain (BI).
§ Menyampaikan pesan secara lisan kepada orang lain.
§ Menjawab pertanyaan tentang isi teks.
§ Menanyakan atau menanggapi cerita teman sekelas.
§ Membaca teks cerita dengan lafal dan intonasi yang tepat.
§ Menjawab atau mengajukan pertanyaan dari isi teks yang dibaca.
§ Menceritakan isi teks yang dibaca menggunakan kalimat atau kata-kata sendiri.
§ Menulis pengalaman dengan huruf sambung (memperhatikan ketepatan dan kecepatan).
§ Menulis kalimat sederhana yang didektekan guru dengan huruf sambung secara tepat, rapi dan mudah dibaca.
§ Menggunakan alat ukur dengan satuan jam dan menit (MAT).
§ Mengurutkan bilangan.
§ Membaca waktu.
§ Memberi makna pada hasil pengamatan. (IPA)
§ Mengungkapkan gagasan secara lisan.
§ Menunjukkan hasil kegiatan dalam bentuk gambar atau secara lisan.
§ Menunjukkan beragam jenis benda padat dan benda cair yang ada di sekitar.
§ Bekerjasama dengan teman.
§ Memberi tanggapan secara santun.
§ Membedakan kuat dan lemahnya bunyi dengan gerakan/tepukan (SE-BUD)
§ Menunjukkan kesesuaian gerakan/tepukan dengan rangkaian bunyi yang diperdengarkan.
§ Menyanyikan lagu sesuai dengan tanda dinamik.
§ Menyanyikan lagu wajib dengan iringan alat musik ritmis.
§ Menggambar dan mewarnai objek menarik.


III.   LANGKAH PEMBELAJARAN
1.   Kegiatan Awal/Pendahuluan
§ Mengajak semua siswa berdoa sesuai dengan agama dan keyakinan masing-masing.
§ Mengajak siswa menyanyikan lagu “Nasihat” sambil menggerakkan anggota badan sesuai dengan syair lagu (Orkes, Budaya-Keterampilan).
§ Bertanya jawab tentang ”Nasihat”.
§ Menginformasikan tema yang  akan dipelajari bersama (Saling Menghormati).




2.   Kegiatan Inti
1) Semua siswa ditugaskan untuk membaca wacana di halaman 78 dan 79.
2) Menunjuk salah satu siswa untuk membaca dengan keras dan dengan intonasi yang benar
3) Bertanya jawab tentang makna teks misalnya:
§ Mengapa ana tidak masuk sekolah?
§ Siapa yang mengirim surat?
§ Siapa yang membawa surat ana?
§ Diserahkan kepada siapa surat itu?
§ Ada kepentingan apa ana tidak masuk sekolah?
§ Dan sebagainya
4) Siswa dikelompokkan dengan teman sebangkunya dan mendiskusikan sikap orang tua Ana dan mengapa kita harus menghormati guru? (BI, PKn, IPS, IPA, Mat).
5) Semua siswa diminta mengamati gambar di hal 79 tentang topik “Saling Menghormati di Tempat Umum” kemudian menugaskan siswa membaca teks/bacaan secara bergantian.
6) Memanggil salah satu siswa (bisa bergantian) maju kedepan untuk menceritakan kembali isi teks/bacaan tersebut (BI, PKn, IPS, IPA, Mat).
7) Semua siswa diminta menulis teks yang didektekan guru tentang bagaimana tata cara menghormati jika berada di tempat umum misalnya:
§ Kita harus saling menghormati
§ Hormatilah anggota keluargamu
§ Hormatilah bapak dan ibu guru
§ Mintalah ijin sebelum pergi ke sekolah
§ Ucapkanterima kasih setelah meminjam sesuatu
§ di jalan harus tertib,
§ berjalan disebelah kiri,
§ tidak boleh membunyikan bel terlalu sering,
§ tidak boleh berteriak seenaknya
§ dsb (BI, PKn, IPS, IPA, Mat)
8) Semua siswa ditugaskan membuat karangan tentang peristiwa menyenangkan di tempat umum (atau dimana saja) Bersama keluarganya dengan menggunakan huruf kapital dan tanda baca dan apa saja aturan yang harus ditaati (BI, PKn, IPS, IPA, Mat).
9) Bagian “Cakrawala” guru memberikan penjelasan dan bercerita tentang “Malioboro” (Salah satu pusat Pariwisata di Kota Yogyakarta yang sudah terkenal di seluruh Indonesia) bahka luar negeri.
10) Siswa dikelompokkan secara acak dengan anggota 4 anak, dan setiap kelompok membuat karangan pendek tentang tempat-tempat wisata yang ada di daerahnya.
§ Ada berapa banyak tempat wisata
§ Dimana, apa namanya dsb. (BI, PKn, IPS, IPA, Mat).
11) Bagian “Ayo Bercerita” semua siswa ditugaskan untuk mengarang cerita tentang tempat wisata yang pernah dikunjungi (dimana, apa namanya, dengan siapa saja kesana, apa saja yang disukai dan tidak disukai di tempat wisata itu, apakah ada yang berjualan cinderamata dsb). Siswa dapat mengungkapkan perasaannya terhadap obyek alam di sekitar (BI, PKn, IPS, IPA, Mat, Seni-Bud & Ketrm).
12) Bagian “Ekspresikan Dirimu” (halaman 81) semua siswa ditugaskan menggambar lingkungan sekitar yang menarik di daerah sekitarnya dan mewarnai supaya indah. (BI, Seni-Bud, IPA)
13) Gambar ditukarkan dengan teman disampingnya kemudian masing-masing saling menceritakan perasaannya tentang gambar temannya (gambar apa, apakah bagus, ada apa saja dalam gambar tersebut dsb (BI, PKn, IPS, IPA, Mat)
14) Bagian “Cakrawala” hal 81 guru memberikan penjelasan tentang berbagai macam bunyi (seperti bunyi detak jantung) semua siswa diminta mengamati detak jantungnya sendiri kemudian memperagakan bunyi detak jantungnya dengan cara membuka dan menutuk telapak tangan (BI, PKn, IPS, IPA, Mat, Orjas).
15) Memberikan penjelasan bahwa bunyi dikaitkan dengan nada-nada lagu yang rangkaiannya disebut MELODI. Tangga nada terdiri atas do re mi fa sol la si do jika diganti dengan angka 1 2 3 4 5 6 7 1’.
16) Dilanjutkan dengan menyanyikan lagu “Nasihat” bersama-sama dan dengan memperhatikan tinggi rendahnya nada yang sesuai.
17) Setelah selesai menyanyikan lagu tersebut dilanjutkan dengan bertanya jawab tentang syair lagu. Bahwa yang disayang handai tolan adalah anak yang sopan santun dan tak pernah bohong. Apakah anak-anak sudah melakukan semua itu? (I, PKn, IPS, IPA, Mat, Penjas).
18) Bagian “Cakrawala” hal 84, guru menerangkan adanya wujud benda-benda yang ada di lingkungan kita. Ada benda padat, benda cair, dan ada benda yang bentuknya bisa berubah dari bentuk semula.
19) Semua siswa dikelompokkan dengan anggota 4 – 5 anak. Kemudian setiap kelompok ditugaskan untuk mengamati lingkungan sekitar. Tempat pengamatan setiap kelompok berbeda. (misalnya di taman, lapangan sekolah, ruang UKS, dsb) Setiap kelompok mengidentifikasi dan mencatat hasil pengamatannya apa nama benda, termasuk benda cair atau padat. Bagi kelompok yang banyak catatannya menjadi pemenang (BI, PKn, IPS, IPA, Mat, Penjas).
20) Terakhir semua siswa diminta menyimak bagian ”Berbudi Pekerti” (halaman 92) dan diharapkan semua siswa menerapkan perilaku-perilaku positif yang ada dalam petunjuk berbudi pekerti tersebut.

3.    Kegiatan Akhir/Penutup
§ Bersama-sama siswa menyimpulkan hasil belajar sesuai dengan hasil klarifikasi.
§ Bertanya jawab untuk mengetahui penguasaan materi yang telah dipelajari selama pembelajaran (evaluasi hasil belajar).
§ Mengajak semua siswa berdoa untuk mengakhiri pelajaran.

IV.   ALAT DAN SUMBER BELAJAR
§ Gambar-gambar tentang sikap saling menghormati di keluarga, di sekolah dan di masyarakat.
§ Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat.
§ Buku teks siswa (Bahasa Indonesia, PKn, IPA, Matematika, Orkes, Budaya-Keterampilan, IPS dan Agama).
§ Kurikulum mata pelajaran (Bahasa Indonesia, PKn, IPA, Matematika, Orkes, Se-Bud-Keterampilan, IPS dan Agama).


V.   PENILAIAN
§ Penilaian Lisan (dalam proses).
§ Penilaian Tingkah laku (Pengamatan).
§ Penilaian Produk.
§ Penilaian Portofolio.
§ Penilaian Tertulis Obyektif.
§ Penilaian Tertulis Subyektif.
§ Penilaian Unjuk Kerja (dalam proses).
§ Penilaian Buku Kerja Tematik terbitan ESIS.




Mengetahui,


Kepala Sekolah Guru Kelas 2

Baca selengkapnya >>

11 Okt 2012

RPP PKn Paket B Kelas VII Sem I :Menjelaskan hakikat dan arti penting hukum bagi warga negara



Menjelaskan hakikat dan arti penting 
 hukum bagi warga  negara
Nama PKBM                       : .....................................................
Mata Pelajaran                 :    Pendidikan Kewarganegaraan
Kelas / Semester              :    VII / I
Standar kompetensi       :   1. Menunjukkan sikap positif  terhadap       
                                                         norma-norma yang berlaku dalam
                                                         kehidupan bermasyarakat, berbangsa 
                                                         dan bernegara
                                                                            Kompetensi Dasar           :  2   Menjelaskan hakikat dan arti penting   
Baca selengkapnya >>

7 Okt 2012

Mendikbud: Orang Cerdas Cinta Damai



PALANGKARAYA. Ciri orang cerdas adalah cinta damai. Orang yang suka bertengkar artinya tidak cerdas. Hal itu ditekankan oleh Mohammad Nuh pada sambutan puncak peringatan Hari Aksara Internasional (HAI) ke-47 yang bertemakan Aksara Membangun Perdamaian dan Karakter Bangsa, di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Minggu (16/9).
Dengan melek aksara, kata Nuh, seseorang bisa mengembangkan kecerdasannya. Orang cerdas, lanjut Nuh, adalah orang yang pola pikirnya yang tidak terkotak-kotak, kreatif, dan mampu bertoleransi dengan perbedaan. Hal ini penting terkait keanekaragaman di Indonesia baik dari budaya, agama, suku, dan lainnya.
Selain itu, Nuh juga menyatakan orang cerdas adalah yang mampu memecahkan persoalan yang dihadapinya. Tidak menambah masalah dengan permasalahan baru, “Jadi bukan mempersoalkan persoalan itu sendiri,” kata Nuh.
Oleh karena itu, Nuh mendorong seluruh elemen bangsa untuk mengentaskan buta aksara. Tidak cukup hanya sekedar bisa baca-tulis-hitung (calistung), tapi juga memperluas keaksaraan itu menjadi kemampuan observasi, mengolah dan menganalisis, serta menyajikanya.
“Ini adalah modal yang kuat bagi manusia untuk mengembangkan 3T, teknologi, talenta, dan toleransi. (Dina Julita/HK)
Baca selengkapnya >>